Mengajar di Wamena
Di Balik Toga: 5 Kenyataan Pahit Pendidikan di Wamena yang Tak Ada di Dokumen Negara Oleh: Syamsul Bahri Abd. Rasyid Sesaat setelah menanggalkan status mahasiswa di Yogyakarta yang serba teratur, saya menginjakkan kaki di Wamena, Papua Pegunungan. Pengalaman mengajar selama dua tahun di sana, sebelum akhirnya saya berpindah ke Ambon, menyadarkan saya akan satu hal: teori-teori pendidikan yang tampak adiluhung dalam dokumen negara mendadak terlihat "lucu"—dalam artian yang getir—ketika dihadapkan pada realitas pegunungan. Dalam tumpukan dokumen birokrasi, pendidikan Indonesia digambarkan sebagai mesin teknokratis yang presisi. Ada kurikulum yang sistematis, Indikator Kinerja Utama (IKU), akreditasi, hingga janji-janji transformasi digital. Semuanya seolah bisa diselesaikan lewat rapat koordinasi atau sekadar pergantian jargon kebijakan. Namun, di Wamena, saya belajar bahwa menjadi sarjana bukanlah soal mengejar angka di atas kertas, melainkan sebuah perjuangan fisik dan eks...







