Sekolah Sepanjang Hari (SSH) Wamena di hati ku
Sekolah Sepanjang Hari (SSH) Wamena di hati ku
cacatan refleksi 17 Agustus yang ke 81
Oleh: Evis Yoman
Di Balik dingin angin kurima Lembah Baliem. Sinar matahari pagi menyusup perlahan di sela-sela jerami yanengga, menyinari ruangan dalam titik-titik cahaya yang berpendar. Di atas loteng Honai yang dindingnya dilapisi daun Dolingga cokelat tua kehitaman, deru angin sesekali terdengar melalui ventilasi udara di atas pintu. Di sinilah, di tengah kehangatan pilar-pilar tiru, sebuah narasi pendidikan dimulai.
Bagi para pendidik yang sering saya sebut sebagai "pahlawan di atas generasi", pagi hari adalah terbiasa dengan kesederhanaan. Menggulung selimut bercorak buah oren dengan latar biru langit, lalu membawanya ke halaman untuk dijemur sambil: mencari kutu di bawah hangatnya mentari.
Sarapan setiap hari adalah ubi bakar dari seorang Mama. Namun, dalam kesederhanaan ini, muncul pertanyaan mendasar: bagaimana literasi dan inovasi bisa berakar di tanah dengan tantangan perang antara suku dan politik orang Papua (Papua merdeka)? Setidaknya Jawaban terletak pada Sekolah Sepanjang Hari (SSH), sebuah model yang cocok dengan kehidupan orang Papua.
1. Pujian Bukan Sekadar Ujian
"Pujian yang tulus bukan gula-gula sesaat. Ia adalah bahan bakar untuk mental yang sedang dan senantiasa bertumbuh." — PenaYonda
Secara teoretis, rasa aman yang diciptakan melalui kasih sayang ini menurunkan kadar hormon kortisol (stres) pada anak-anak. Ketika kortisol turun, prefrontal cortex—bagian otak yang bertanggung jawab untuk fungsi kognitif dan literasi—dapat bekerja maksimal. Di sinilah kunci mengapa anak-anak Papua di SSH lebih cepat menyerap huruf; mereka tidak belajar di bawah ketakutan isu sosial, melainkan di bawah naungan penghargaan. Pujian tidak hanya hiasan tapi juga lisan dan jempol serta kode mata sambil tersenyum.
2. Literasi: Puisi Karya Siswa
Puisi tentang Kampungku Oleh: Aurel Saveria Stania Asso (Level 3)
Di kampung Hesatum keheningan kali Balim Aku berdiri menatap alam di antara embusan angin Kurima Setiap bulan Mei, wajah kali Balim berubah menjadi ungu Oleh kembangnya yang indah dan harum Bersama kedua sahabat Krisang dan kampungku Hesatum Kau mengukir alam Wamena menjadi negeri yang indah Kami akan selalu menjaga mu hingga kau tetap abadi di mata dunia.
3. Kotoran Ternak Menjadi Api: Inovasi Biogas untuk Keberlanjutan
b. Sanitasi & Pengurangan Limbah: Mengolah kotoran babi secara efektif agar tidak mencemari lingkungan pemukiman.
c. Pupuk Organik: Sisa limbah cair dari proses anaerobik digunakan untuk menyuburkan kebun ubi dan sayuran pada tanaman di halaman sekolah.
Tapi sayang, siswa belum melihat hasil bagaimana Api menyala dari Kotoran babi yang mereka lakukan karena guru guru pendamping SSH pulang ke keluarga masing-masing akibat konflik antara masyarakat Kurima dengan suku Lani.
4. Masih rindu kesana akankah terwujud?
Saya masih rindu sapaan mereka(siswa) perempuan sapa ku seperti ini “paguru UK….) sedangkan siswa laki-laki sapa ku “paguru Nayak….) saya lihat senyum tipis di wajah mereka. Saya merindukan mereka. Saya belum selesaikan tuntas yang menjadi tanggungjawab saya. Mereka sudah dapat materi tambah-tambah dan kali-kali tapi belum mendapatkan kurang-kurang dan bagi-bagi secara metode Gasing. Saya merasa gagal dan menjadi beban pikiran setiap hari, walaupun saya menyadari belum bisa kesana karena suku ku terkait konflik sosial di negeri ini.
Seruan ku untuk semua orang bahwa, generasi lebih korban dari yang kita sadari. Sebab korban generasi merupakan kehilangan masa depan. -PenaYonda
5. Fleksibel (Tidak Tabrak) Asal Demi Generasi
Kami sering menekankan bahwa SSH bukan saingan sekolah formal atau menganggu jadwal sekolah reguler. SSH berfokus pada literasi dasar yang menyentuh akar budayanya atau muatan lokal. Berdasarkan pengalaman. Banyak siswa di lapangan yang belum bisa membedakan huruf kapital dan konsonan; SSH hadir untuk membenahi pondasi itu. Kita percaya pondasi aman bangunan manusia kokoh. Seperti yang kami alami (guru pendamping) di lapangan, SSH setidaknya melalui tujuh tahapan yang terdiri dari tiga kali makan sehari, tiga kali aktivitas pembentukan karakter dan satu kali aktivitas pendamping literasi. Hal ini merubah kebiasaan baru oleh karena itu kami dengan tidak ragu ragu menyebut SSH merupakan pemberi Perlakuan Baru.
6. Ikat siswa dengan kreativitas
Bagi kami kreativitas merupakan tali rotan untuk mengikat siswa, bukan untuk memukul mereka. Kami bernyanyi lagu-lagu karya seniman lokal saat mengantuk muncul sebagai manusiawi. Siswa menyebutkan kalimat seperti “saya datang timbah ilmu, saya pulang bawa ilmu” sebelum keluar dari kelas. Kalimat ini lahir dari analogi kebiasaan mereka pergi timba air datang pulang bawa kerumah sehingga siswa merasa apa yang mereka sebutkan itu adalah kebiasaan sehari-hari yang datang langsung di kelas. Kalimat itu kami istilahkan spirit class
Ada juga istilah character point. Siswa peragakan kata: Terima kasih, Minta tolong, Maaf, dan Permisi. Saat apel siswa bergilir perlevel memimpin baris-berbaris. Dengan demikian kami senantiasa percaya generasi tumbuh dengan berani berdiri di depan tanpa takut, tapi tetap menghargai teman sebaya guru dan masyarakat lebih luas.
7. Sebuah Perjalanan yang Belum Usai
Kami senang menutup cacatan refleksi 17 Agustus yang ke 81 ini dengan kalimat sebuah perjalanan yang belum usai. Dengan pandangan bahwa "Selama masih ada satu anak yang merasa tidak dihargai di kelas, tugas kita belum selesai." Perjuangan pendidikan di Papua bukan tentang membangun gedung yang megah, melainkan tentang membangun jiwa yang merasa berharga.
Save our soul
PenaYonda 🖋️
Wamena,17 Agustus,26



Komentar