Peran aktif intelektual: Edukasi tradisi lisan dan jaga jari tanpa data

 


Pada situasi Wamena saat ini, semestinya jaga tradisi lisan, jaga jari tanpa data.

 Ada banyak fakta yang belum bisa dijelaskan dengan data. Adapula Banyak data yang belum ada faktanya. 

Inilah peran aktif intelektual kawal informasi ilmiah. 

Contoh kekeliruan yang terjadi pada kasus perang suku Lani vs kurima. Beredar informasi korban seperti 37, 38, 28, dll akhirnya terkonfirmasi 33 orang yang hanyut kali Uwe. 

Secara fakta perang benar terjadi tapi data tidak sesuai akibat tradisi lisan dan tidak jaga jari. 

Sangat perlu gali informasi tentang akar masalah dengan penuh teliti lalu disebarluaskan di media sosial, agar muatan informasi memiliki kevalitan.

Dan tidak menimbulkan perspektif seperti salahkan pihak gereja, pihak pemerintah, pihak ketiga dll.

Komentar-komentar yang beredar mengandung informasi politis dan ego kepemimpinan. 

Solusi alternatif kedepan perlu penguatan pada lembaga adat masing-masing klen marga dan suku, agar dapat dikontrol dengan mudah.

Rencana Perdasus dan perda yang akan dilakukan oleh Tim yang dibentuk ibu Ribka Haluk sangat perlu dorong draf perlindungan hukum adat. Agar masing-masing kabupaten kembangkan sesuai wilayah adat dan lintas batas klen marga.

Untuk diskusi ini perlu libatkan lembaga terkait seperti MRP, DPRK, LMA, dan dewan Gereja.

Dengan demikian, munculkan draf hukum adat dan menerapkannya sesuai hukum adat yang berlaku di masing-masing klen marga dan suku.


PenaYonda 

📍 Hubula

Komentar

Postingan Populer