Kepercayaan Gunung Nemangkawi
Sumber: BBC news Indonesia
Analisis berita BBC news Indonesia: Kepercayaan Gunung Nemangkawi
Oleh: Evis Yoman
BBC news Indonesia, terbitkan berita dengan lima belas paragraf dengan judul: "Salju abadi di Papua diyakini akan meleleh seluruhnya pada 2027"
Berita ini sangat menarik perhatian saya dengan adanya kutipan beberapa informan didalam berita ini. Ketiga informan itu dipilih sebagai random sampling berdasarkan zaman mereka untuk konfirmasi cara pandang masyarakat adat dengan suatu benda seperti hubungan masyarakat dengan gunung Nemangkawi di kabupaten Timika provinsi Papua Tengah.
Dari hasil wawancara wartawan BBC news Indonesia menunjukkan bahwa ketiga informan memiliki pandangan yang sama melihat gunung sebagai bagian dari sakral dan spiritualitas. Masyarakat memandang gunung Nemangkawi sebagai tempat cuci atau Surga secara konkret/nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Hubungan masyarakat dengan gunung terbukti dengan pandangan bahwa, Gunung Nemangkawi merupakan "Tempat peristirahatan orang tua dan leluhur mereka"-bbc,2026. Dalam bahasa suku Momi puncak itu dengan nama Mbainggela, yang dalam bahasa Moni bermakna tempat suci atau gunung terlarang.
Cara pandang dualisme masyarakat Papua, memberikan naluri alamiah untuk melindungi dan merawat Gunung sebagai bagian yang sah dari ibadah. Sebab hubungan masyarakat dengan alam (gunung, sungai, hutan, dan pekarangan) memiliki dimensi kepercayaan turun temurun hingga kini.
***
Namun cara pandang berbeda mendorong orang asing datang untuk melakukan penelitian dan membuat peta tiga dimensi. Pandangan ini kita sebut rasionalime dimana memandang gunung sebagai tempat atau gudang "Harta bernilai di pasar global". Karena itu, orang asing cenderung lebih superior sejak adanya rancangan dari pikiran.
Orang asing memandang alam sebagai sumber potensi dan manusia sebagai pengelola dengan adanya' bantuan alat (mesin). Orang asing selalu menggunakan instrumen penelitian sebagai alat pencuri informasi yang terkandung dalam alam termasuk, udara, air, batu, hutan, gunung, sungai, kali ddl yang tergolong dalam kategori, Tumbuhan dan Hewani.
Hubungan dengan gunung Nemangkawi, peneliti orang asing telah meninggalkan jejak Dosa atau orang asli Papua menyebutnya DOSA PENELITI BARAT. Dosa-dosa orang-orang superior itu seperti ini:
1. Nemangkawi (Carstensz)
Nama Gunung asli yang beroperasi oleh PT Freeport Indonesia sejak tahun 1969 adalah Nemangkawi. Sementara Carstensz adalah nama orang peneliti asal Jerman. Orang yang meneliti kandungan emas di gunung Nemangkawi. Lalu ia ubah nama puncak itu menjadi Gunung Carstensz. Ubah nama tempat seperti gunung memiliki makna yang berbeda.
Carstensz artinya nama orang. Orang itu berperan sebagai peneliti(pencuri informasi) pencuri itu berasal dari Jerman. Dapat disimpulkan Carstensz memiliki arti "Orang asing pencuri informasi kandungan emas dan pengubah nama tempat (gunung). Dengan demikian selama nama itu belum dikembalikan yang asli rename. Carstensz adalah malapetaka bagi orang asli Papua.
2. Hubula/Lani(Dani)
Penulisan suku Dani juga merupakan peninggalan dan warisan kebodohan dan dosa peneliti barat. Kebodohan dan dosa peneliti barat itu tertular kepada orang lain dalam tulisan cetak ataupun online di berbagai media tingkat nasional maupun internasional, Kesalahan itu beredar tanpa konfirmasi dan validasi untuk memastikan keaslian dan kebenaran.
Dalam berita BBC news Indonesia, wartawan memberikan prediksi bahwa "suhu di wajah Pasifik akan segera mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah." Prediksi ini dapat dibenarkan berdasarkan revolusi Bumi atau kata lain perubahan iklim global. Sejak Agustus keberadaan bumi pada lintasan kutuk Utara dengan musim kemarau panjang.
Berita BBC news Indonesia juga menyatakan "Orang asli Papua akan kehilangan gunung berlapis es yang sangat sakral dalam spiritualitas mereka." Tapi bagi penulis, Dunia dan Indonesia akan kehilangan gunung Nemangkawi berlapis emas yang menjadi dapur dunia kaitannya dengan PT Freeport Indonesia.
Kata Marie. Pakar ekologi gletser di Departemen Ekologi Charles University, Republik Ceko. Dia menuturkan "Masyarakat adat Papua berkontribusi sangat sedikit terhadap emisi gas rumah kaca yang memicu pemanasan global, tapi mereka menyaksikan perubahan yang tidak terelakkan di ruang hidup mereka," kata Marie.
Pakar ekologi glestser sangat benar menempatkan orang Papua sebagai terdampak atau yang mengalami perubahan kemarau panjang secara langsung, padahal secara komprehensif aktivitas masyarakat jauh dari global warming yang mengakibatkan emisi gas rumah kaca, dan polisi udara serta limbah industri kategori non-organik.
PenaYonda 🖋️
18-09-26
#Bbc #GunungNemangkawi #Analisis #Papua
@sorotan
Link:https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1568386151992826&id=100064643685674&mibextid=NOb6eG



Komentar